-
by Klik Properti
- June 11, 2025
- Blog
- (0)
- 03 Mins
K-Drama: Kamus Tak Terduga bagi Desainer Interior dalam Merancang Konsep, Referensi Gaya Desain, dan Ambience
Pernahkah kamu menonton drama Korea dan tiba-tiba ingin tinggal di dalam ruangannya? Seolah-olah studio office di drama “Start-Up” benar-benar ada di sudut Seoul, atau rumah keluarga di “Reply 1988” terasa seperti tempat paling nyaman, homey, dan sederhana di dunia. Visualnya begitu realistis, hidup, dan emosional. Tapi menariknya, banyak dari ruang-ruang ini tidak sepenuhnya nyata dan orisinil. Set drama yang kita anggap asli, sering kali adalah hasil fabrikasi penuh, dibangun di atas lahan kosong, dan didesain sedemikian rupa agar terasa autentik di layar.
Interior dan arsitektur yang tampak nyata, ternyata adalah rekayasa. Tapi justru dari rekayasa itulah, kita belajar bahwa ruang bisa dirancang untuk terasa hidup, bahkan tanpa benar-benar ada. Bagi desainer interior, ini bukan hanya soal teknis, tapi soal menciptakan ilusi dan pengalaman. Dalam dunia yang semakin visual dan emosional, desainer interior dituntut untuk menciptakan ruang yang bukan hanya fungsional, tapi juga bermakna. Dari sekian banyaknya metode brainstorming, K-Drama bisa menjadi kamus tak terduga yang penuh referensi emosional, sinematik, dan konseptual untuk mendesain ruang yang hidup.
Set: Investasi Besar demi Dunia yang Nyata

Di balik layar, produksi K-Drama mengalokasikan sebagian besar anggaran mereka untuk set dan lokasi. Hal ini bukan tanpa alasan. Banyak drama Korea memilih membangun set dari nol, bahkan sampai membeli lahan kosong dan menciptakan kompleks bangunan khusus, seperti kota kecil atau perusahaan fiktif. Setelah penayangan, lokasi-lokasi ini kerap dikomersialkan, menjadi tempat wisata dan foto, demi memanfaatkan tren global dari para penonton. Ini menunjukkan bahwa latar bukan sekadar “tempelan” visual, tapi bagian dari strategi naratif dan ekonomi industri hiburan Korea.
Hal ini menunjukkan betapa seriusnya dunia K-Drama dalam menciptakan realitas yang imersif. Mereka sadar ketika ruang terasa nyata, maka cerita lebih mudah dipercaya dan dikenang. Prinsip ini sangat relevan untuk desainer interior, terutama saat merancang ruang publik yang ingin meninggalkan impresi mendalam.
Sinematografi yang Bisa Dirasakan: Dari Layar ke Ruang Nyata

Sinematografi bukan hanya soal kamera. Dalam K-Drama, ia menjadi alat untuk menyampaikan perasaan lewat pencahayaan, framing, dan atmosfer. Tapi bagaimana jika prinsip ini dibawa ke dalam desain interior? Sebagai desainer, kita bisa memetakan ulang sinematografi ke dalam unsur ruang. Sebagai contoh, lighting dramatis bisa menggantikan tone visual film noir. Tekstur material seperti marmer mengkilap, atau kain beludru bisa menjadi “frame” yang ditangkap oleh kulit kita sebagai indra peraba, bukan kamera. Suara ambient seperti denting gelas, musik klasik, atau bahkan aroma bisa menggantikan soundtrack latar.
Salah satu referensi terbaik dalam sinematografi K-Drama yang mungkin kamu sudah ketahui adalah drama “Mr. Sunshine”. Drama yang bisa ditonton di Netflix ini menampilkan kemewahan suram dari masa penjajahan Jepang & Amerika Serikat di era pra-kemerdekaan Korea dengan tone warna hangat dan furnitur berornamen berat. Nuansa itu bisa diterjemahkan menjadi lounge dengan sentuhan kayu gelap, lampu gantung antik, dan aroma kayu manis yang lembut.
Studi Kasus: K-Drama dalam Proyek Desain Nyata

Dalam proyek Interior Design & Styling semester lalu lalu bertajuk “de Belvedere”, penulis merancang interior sebuah hotel bar yang menggabungkan nuansa kolonial Hindia Belanda dengan preferensi estetika generasi modern. Inspirasi utama datang dari drama “Vincenzo”, sebuah serial drama Korea yang menghadirkan cerutu, rokok, dan korek api sebagai simbol status sosial, kekuasaan, dan kedewasaan.Referensi ini kemudian dipadukan dengan semangat lokal dari film “Gadis Kretek”, menciptakan kombinasi antara prestige internasional dan kearifan lokal. Di sinilah kekuatan K-Drama terlihat, ia membuka jalan untuk eksplorasi simbol, suasana, dan identitas lintas budaya dalam satu ruang desain.
Dalam proyek “de Belvedere”, konsep cerutu tidak hanya diangkat sebagai elemen estetis, melainkan sebagai simbol lintas budaya dan generasi. Drama Vincenzo memperkenalkan produk olahan tembakau sebagai lambang status, kekuasaan, dan ketenangan dalam dunia gelap mafia; sementara Gadis Kretek merepresentasikan tembakau sebagai warisan budaya Jawa Timur yang sarat nilai sejarah dan emosi kolektif. Dua referensi ini menyatu dalam desain “de Belvedere” untuk menciptakan atmosfer luxury leisure yang tidak terputus dari akar lokalnya.
Lebih jauh, filosofi desain de Belvedere mengadopsi pendekatan biomimikri dari anatomi cerutu, mulai dari tekstur kasar pembungkus, struktur lapisan, hingga narasi ‘menghangatkan dari dalam’. Ini kemudian diterjemahkan secara material ke dalam palet warna earthy, material fabricated seperti sintered stone, fire-retardant chenille, serta elemen desain yang mewakili generasi X dan Z secara bersamaan. Desainnya menyatukan nuansa nostalgia dan keberlanjutan, menjadikan cerutu bukan sekadar simbol kemewahan, tapi juga metafora ruang yang bisa dirasakan melalui indera.
Jadi lain kali kamu menonton drama Korea, cobalah berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana jika ruang ini bukan hanya fiksi? Bagaimana jika kamu bisa merancang ulang keajaiban itu di dunia nyata? Karena mungkin, inspirasi terbaik bukan datang dari buku teori, tapi dari satu episode yang membuatmu ingin masuk ke dalam layarnya.
Source : kompasiana.com